Multimedia, Sejarah Editing Film (Video Shot)


Sejarah film dimulai pada tahun 1895. Ketika itu, dunia belum mengenal editing. Beberapa film memang telah sukses menarik hati masyarakat, seperti film berjudul La Sortie de I’Usine Lumiere (1895), The Kiss (1895), A Boxing Bout (1896), dan A Trip to the Moon (1902), dan ternyata film-film tersebut tidak di edit. Hampir semua film ketika itu dibuat dengan teknik single shot atau tanpa cutting. Jadi, sepanjang cerita, juru kamera merekam seluruh adegan tanpa cut. Bisa dimaklumi jika film-film tersebut sangat miskin variasi.

Perkembangan produksi film sebagai media tontonan baru, berkembang dengan pesat khususnya ketika Edwin S, Porter pada tahun 1903 memproduksi film berjudul The Life on an American Fireman, berdurasi 6 menit dengan 20 shot. Sejak saat itu film dibuat dengan cara shot per shot.

Dramatisasi film dirintis oleh D.W. Griffith, dengan diproduksikan film-film yang diberi narasi dan visualisasi. Karena karyanya yang dianggap sebagai tonggak sejarah editing maka D.W. Griffith dikenal sebagai “bapak editing”. Selanjutnya, pembuatan film hampir seluruhnya diikuti dengan proses editing, dan beberapa tokoh yang berpengaruh terhadap perkembangan teknik editing, diantaranya adalah V.I. Pudovkin, Sergei Einstein, Dziga Vertov, hingga Alfred Hitchcock.

Pada dasarnya, editing berguna untuk memperpanjang atau memendekkan waktu, mengontrol waktu, memberikan penekanan terhadap shot tertentu, dan membentuk alur cerita. Memperpanjang atau memendekkan waktu, artinya bahwa editing berguna untuk menyuguhkan cerita yang penuh informasi atau detail atau sebaliknya, untuk mempercepat jalur cerita.

Contoh beberapa tujuan editing:

1. Beberapa contoh editing yang memperpanjang waktu, misalkan; jika kita sedang menyaksikan seseorang sedang terikat atau terkunci di suatu ruangan di mana di dekatnya terdapat dinamit yang siap meledak dengan waktu 10 detik, maka ketika hitungan mundur menunjukkan waktu 10 – 9 – 8, kita akan disuguhi upaya polisi atau orang lain sedang berusaha masuk ke ruangan untuk menyelamatkan. Selanjutnya, kita akan diajak melihat kembali count down 5 – 4 dan kita disuguhi upaya pembebasannya dengan berbagai halangan atau kesulitannya, dan ketika count down sudah mencapai angka 2 – 1, maka tiba-tiba penyelamat bisa melakukan tugasnya. Padahal, jika kita hitung dengan betul, sejak hitungan mundur 10 – 9 detik sampai pembebasannya, kita mungkin akan menonton adegan itu selama lebih dari 3 menit. Memang harus diketahui, bahwa terdapat perbedaan durasi antara real time dengan film time.

2. Mengontrol waktu artinya dengan melakukan editing kita bisa mengatur alur cerita sesuai dengan slot waktu yang tersedia. Umpamanya, sebuah film cerita seharusnya panjangnya 3 jam, karena alasan tertentu, harus dipendekkan menjadi hanya satu jam, tanpa mengganggu alur cerita.

3. Memberikan penekanan terhadap short tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan gambar-gambar penting yang harus diketahui penonton. Misalnya, dengan cara gambar didahului oleh shot berukuran besar, dan tiba-tiba diberikan gambar close up dengan durasi relatif panjang. Dengan demikian, maka penonton mempunyai kesan tertentu kepada shot close up tersebut.

4. Editing juga penting untuk membentuk alur cerita sesuai harapan sutradara. Salah satu contoh editing yang sangat populer yang mempunyai efek kuat ialah: dua buah shot, masing-masing sebuah shot berukuran close up dengan tayangan gambar pistol yang sedang meletus dan memuntahkan peluru. Gambar lain ialah sebuah shot seorang gadis yang sedang ketakutan. Jika gambar pistol yang sedang di tembakkan ditempatkan di awal dan diikuti oleh gambar gadis yang ketakutan, maka kesan penonton adalah gadis tadi takut melihat pistol yang ditembakkan. Sebaliknya, jika gambar gadis yang ketakutan ditempatkan di depan dan diikuti oleh gambar ledakan pistol, maka kesan penonton sangat berbeda, yaitu seorang gadis yang sedang ditembak.

Editing merupakan salah satu proses tahapan produksi gambar yang sangat menentukan. Editor atau sutradara yang berpengalaman dan menguasai ilmu sinematografi terkadang mengalami kesulitan ketika melakukan editing. Apalagi jika juru kamera yang bertugas mengambil gambar tidak sesuai dengan harapan editor atau sutradara. Oleh karena itulah, seorang juru kamera wajib mengetahui ilmu tentang penyutradaraan dan juga ilmu tentang editing.

Untuk melakukan pekerjaan editing, dewasa ini editor dituntut untuk menguasai tiga hal berikut.
1. Perangkat lunak (software editing)
2. Shot dan motivasi (cut and motivations)
3. Teori penyutradaraan

Software atau perangkat lunak untuk editing kini sangat beragam. Pekerjaan editing tidak lagi dilakukan secara manual seperti halnya editing film. Editing elektronik menyediakan pula berbagai fitur yang sangat bervariasi sehingga membuat tampilan gambar menjadi lebih indah, dinamis dan juga sangat menarik.

0 Response to "Multimedia, Sejarah Editing Film (Video Shot)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel