Filsafat Dakwah

Filsafat

Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kara serapan dari bahasa Arab, yang juga diambil dari bahasa Yunani Philosophia, yaitu Philia (persahabatan, cinta) dan Sophia (kebijaksanaan). Sehingga secara harfiah dapat diartikan sebabai seorang yang “Pencinta Kebijaksanaan”. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang filsafat disebut Filsuf.

Menurut istilah, filsafat adalah ilmu istimewa yang menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa, karena masalah-masalah termaksud diluar atau di atas jangkauan ilmu pengetahuan biasa. Dalam arti praktis filsafat mengandung arti alam berfikir atau alam pikiran, sedangkan berfilsafat ialah berfikir secara mendalam dengan sungguh-sungguh sampai keakar-akarnya terhadap suatu kebenaran atau dengan kata lain berfilsafat mengandung arti mencari kebenaran atas sesuatu.

Dakwah



Sedangkan Dakwah adalah derivasi dari bahasa Arab “Da’wah”. Kata kerjanya da’a yang berarti memanggil, mengundang atau mengajak. Ism fa’ilnya adalah da’i, yang berarti pendakwah. Di dalam kamus al-Munjid fi al-Lughoh wa al-a’lam disebutkan makna da’i sebagai orang yang memanggil (mengajak) manusia kepada agamanya atau mazhabnya. Sedangkan merujuk pada Ahmad Warson Munawir dalam Ilmu Dakwah karangan Moh. Ali Aziz (2009:6) kara da’a mempunyai beberapa makna antara lain memanggil, mengundang, minta tolong, meminta, memohon, menamakan, menyuruh datang, mendorong, menyebabkan, mendatangkan, mendoakan, menangisi dan meratapi. Di dalam Al-Qur’an kata dakwah ditemukan tidak kurang dari 198 kali.

Dari beberapa literature pakar dakwah berikut definisinya:

1. Dakwah adalah perintah mengadakan seruan kepada sesama manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah yang benar dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik (Aboebakar Atjeh, 1971:6)

2. Dakwah adalah menyampaikan dan mengajarkan agama Islam kepada seluruh manusia dan mempraktikkannya dalam kehidupan nyata (M. Abul Fath al-Bayanuni)

3. Dakwah adalah suatu aktifitas yang mendorong manusia memeluk agama Islam melalui cara yang bijaksana, dengan materi ajaran Islam, agar mereka mendapatkan kesejahteraan kini (dunia) dan kebahagiaan nanti (akhirat) (A. Masykur Amin)

Dari definisi para ahli di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dakwah adalah kegiatan atau usaha memanggil orang muslim maupun non-muslim, dengan cara bijaksana, kepada Islam sebagai jalan yang benar, melalui penyampaian ajaran Islam untuk dipraktekkan dalam kehidupan nyata agar bisa hidup damai di dunia dan bahagia di akhirat.

Maka filsafat dakwah dapat dipahami dalam tiga makna yang paling sederhana hingga makna yang paling tinggi sebagai berikut:

1. Filsafat dakwah merupakan suatu konsep atau bagan pemikiran yang menerangkan dasar-dasar, prinsip-prinsip, dan hal-hal yang dianggap paling pokok mengenai dakwah.

2. Filsafat dakwah adalah pemikiran atau kajian yang bersifat rasional dan filsufis mengenai prinsip-prinsip dakwah yang digali dari sumber-sumber Islam, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits, serta pemikiran para ulama, sebagai pegangan dasar bagi para da’i dalam melaksanakan tugas dakwah demi mencapai mardhatillah.

3. Filsafat dakwah menunjukkan pada konsep-konsep atau aliran-aliran pemikiran mengenai dakwah yang memperlihatkan perbedaan-perbedaan paradigmatis (pola pemikiran) tentang hal-hal pokok mengenai dakwah. Filsafat dakwah yang ketiga ini berkaitan dengan mazhab-mazhab pemikiran dalam dakwah yang dengan sendirinya memperkaya wacana dan khasanah intelektual dakwah.


Tujuan Filsafat Dakwah

Tujuan filsafat dakwah adalah dapat memberikan pemahaman yang bersifat universal tentang suatu unit ajaran Islam secara mendalam, mendasar dan radikal sampai keakar-akarnya, sehingga akhirnya dapat membawa kepada kebenaran yang hakiki, kebenaran hakiki tersebut terimplementasikan dalam sikap kesehariannya sebagai seorang Islam. Lebih jauh bertujuan memberikan kepuasan kepada sebahagian jiwa yang amat berharga juga mengantarkan seseorang sampai kepada kepercayaan keagamaan yang benar, yang kalau sebelumnya hanya diterima secara domatis dan absolute. Maka pada akhirnya bukan hanya mitologis semata, tetapi juga diterima melalui kerangka fikiran yang rasional juga akan memberi artinya penting dalam menyadari otoritas dirinya sebagai mahluk yang berdimensi dalam memahami diri.

Ada dua aspek makna pentingnya dakwah bagi manusia, yaitu:
1. Memelihara dan mengembalikan martabat manusia
Dakwah adalah uapaya para da’i agar menusia tetap menjadi mahluk yang baik, bersedia mengimani dan mengamalkan ajaran dan nilai-nilai Islam, sehingga hidupnya menjadi baik, hak-hak asasinya terlindungi, harmonis, sejahtera, bahagia di dunia dan di akhirat terbebas dari siksaan api neraka dan memperoleh kenikmatan surga yang dijanjikan.

Ketinggian martabat manusia itulah yang dikenhendaki Allah SWT. Sehingga manusia dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan tujuan penciptaan-Nya, yaitu sebagai khalifah-Nya, bukan sebagai mahluk yang selalu menimbulkan kerusakan dan pertumpahan darah seperti yang di khawatirkan oleh para malaikat.

Oleh sebab itu dakwah harus bertumpu pada tauhid, menjadikan Allah sebagai titik tolak dan sekaligus tujuan hidup manusia. Diatas keyakinan tauhid itulah manusia harus melakukan kewajiban menghambakan diri (mengabdi) kepada Allah yang wujudnya secara vertikal menyembah kepada Allah SWT dan secara horizontal menjalankan sebuah risalah atau misi yaitu menata kehidupan sesuai dengan yang dikehendaki Allah SWT.

2. Membina ahlak dan memupuk semangat kemanusiaan
Dakwah juga penting dan sangat diperlukan oleh manusia karena tanpanya manusia akan sesat. Hidupnya menjadi tidak teratur dan kualitas kemanusiaannya merosot. Akibatnya manusia akan kehilangan ahlak seperti nuraninya tertutup, egois, rakus, liar, akan saling menindas, saling “memakan” atau saling “memeras”, melakukan kerusakan diatas dunia, sehingga konstatasi malaikat bahwa manusia sebagai mahluk perusak di bumi dan penumpah darah akan menjadi kenyataan.

Tanpa adanya dakwah, manusia akan kehilangan cinta kasih, rasa keadilan, hati nurani, kepedulian sosial dan lingkungan, karena manusia akan menjadi semakin egois, konsumeristis, dan hedonis. Manusia hanya akan mementingkan dirinya sendiri tanpa mau memikirkan lingkungannya dan tidak peduli terhadap kesulitan dan penderitaan masyarakat lain. Manusia juga akan memanfaatkan apa saja untuk memuaskan hawa nafsunya.

Maka dakwah Islam menjadi dasar dan alasan bagi akal untuk melaksanakan kewajiban beriman kepada Allah SWT.

Imam Syafi’i berkata:

Cahaya di dalam hati fluktuatif, kadang bertambah dan kadang berkurang”.

Karena itu, dakwah diperlukan untuk mengantisipasi keadaan hati yang berkurang dan memposisikannya dalam keadaan bertambah.


Referensi
1. https://ukhuwahpusat.wordpress.com/2014/01/05/pengertian-dan-tujuan-filsafat-dakwah/
2. https://rozlenfs.wordpress.com/2016/05/21/pengertian-dan-pentingnya-filsafat-dakwah/

0 Response to "Filsafat Dakwah "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel