Komunikasi Dalam Perspektif Islam Relevansinya Dengan ilmu Lain

KOMUNIKASI DALAM PERSPEKTIF ISLAM
RELEVANSINYA DENGAN ILMU LAIN 

A. Pendahuluan

Komunikasi bukanlah sebuah ilmu yang hanya dipelajari di kelas perkuliahan semata, akan tetapi komunikasi sendiri sebenarnya telah diajarkan oleh Sang Pencipta, Allah SWT melalui kitabnya Al Qur’an tentang bagaimana pentingnya komunikasi bagi umat manusia, khususnya umat Islam.

Komunikasi adalah sebuah aktivitas manusia yang saling berinteraksi antara satu orang maupun lebih, konsep tentang komunikasi tidak hanya berkaitan dengan masalah cara berbicara efektif saja melainkan juga etika bicara. Dalam pandangan agama Islam komunikasi memiliki etika, agar jika kita melakukan komunikasi dengan seseorang maka orang itu dapat memahami apa yang kita sampaikan.

Efektifitas komunikasi menyangkut kontak sosial manusia dalam masyarakat. Ini berarti, kontak dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Kontak yang paling menonjol dikaitkan dengan perilaku. Selain itu, masalah yang menonjol dalam proses komunikasi adalah perbandingan antara pesan yang disampaikan dengan pesan yang diterima. Informasi yang disampaikan tidak hanya tergantung kepada jumlah (besar atau kecil) akan tetapi sangat tergantung pada sejauh mana informasi itu dapat dimengerti atau tidak. Sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami dengan efisien dan efektif.

Komunikasi mempengaruhi perubahan perilaku, cara hidup kemasyarakatan, serta nilai-nilai yang ada. Perubahan-perubahan tersebut tampaknya berbanding lurus dengan perkembangan teknologi komunikasi.

Dalam perspektif Islam, komunikasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia karena segala gerak langkah kita selalu disertai dengan komunikasi. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi yang islami, yaitu komunikasi ber-ahlak al-karimah atau beretika. Komunikasi yang berahlak al-karimah berarti komunikasi yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.

Dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits ditemukan berbagai panduan agar komunikasi berjalan dengan baik dan efektif. Hal tersebut dapat kita istilahkan sebagai kaidah, prinsip, atau etika berkomunikasi dalam perspektif Islam. Kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam ini merupakan panduan bagi kaum Muslim dalam melakukan komunikasi, baik dalam komunikasi intrapersonal, interpersonal dalam pergaulan sehai-hari, berdakwah secara lisan dan tulisan maupun dalam aktivitas lain.

Komunikasi disamping untuk mewujudkan hubungan secara vertikal dengan Allah SWT, juga untuk menegakkan komunikasi secara horizontal terhadap sesame manusia. Komunikasi dengan Allah SWT tercermin melalui ibadah-ibadah fardhu (shalat, puasa, zakat dan haji) yang bertujuan untuk membentuk taqwa. Sedangkan komunikasi dengan sesama manusia terwujud melalui penekanan hubungan sosial yang disebut muamalah, yang tercermin dalam semua aspek kehidupan manusia, seperti sosial, budaya, politik, ekonomi, seni dan sebagainya.


B. Pembahasan Komunikasi dalam Perspektif Islam

Komunikasi pada hakekatnya adalah kesamaan makna terhadap apa yang diperbincangkan. Dimana kesamaan bahasa yang digunakan dalam sebuah percakapan belum tentu menimbulkan kesamaan makna. Dengan kata lain mengerti bahasanya saja belum tentu mengerti makna yang dibawakan oleh bahasa itu. Artinya komunikasi efektif itu mninimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat, dan yang terpenting lagi adalah orang lain bersedia menerima paham atau keyakinan, melakukan sesuatu perbuatan atau keggiatan lain dari hasil komunikasi tersebut.

Menurut Onong Uchjana Effendi (dalam Muslimah, 2016: 117) komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku, baik langsung secara lisan, ataupun tidak langsung secara media. Dari pengertian tersebut komunikasi dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Pesan (massage)
2. Pengiriman pesan
3. Penyampaian pesan
4. Pemilihan sarana atau media
5. Penerimaan pesan
6. Respons, efek atau pengaruh.

Dari beberapa pengertian tersebut diatas, dapat dipahami bahwa komunikasi merupakan suatu proses social yang sangat mendasar dan vital dalam kehidupan manusia. Dikatakan mendasar karena setiap manusia baik yang primitif maupun modern berkeinginan mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai aturan sosial melalui komunikasi karena setiap individu memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan individu-individu lainnya yang dengan demikian dapat menetapkan kredibilitasnya dalam melangsungkan kehidupannya.

Komunikasi Islam adalah proses penyampaian pesan-pesan keislaman dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi dalam Islam. Maka komunikasi Islam menekankan pada unsur pesan (message), yakni risalah atau nilai-nilai Islam, dan cara (how), dalam hal ini tentang gaya bicara dan penggunaan bahasa (retorika).

Pesan-pesan keislaman yang disampaikan dalam komunikasi Islam meliputi seluruh ajaran Islam, meliputi akidah (iman), syariah (Islam), dan ahlak (ihsan). Pesan-pesan keislaman tersebut disebut sebagai dakwah. Dahwah adalah pekerjaan atau ucapan untuk mempengaruhi manusia mengikuti Islam.

Teori komunikasi menurut ajaran Islam selalu terikat kepada perintah dan larangan Allah swt atau Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Pada dasarnya agama sebagai kaidah dan sebagai perilaku adalah pesan (informasi) kepada warga masyarakat agar berperilaku sesuai dengan perintah dan larangan Tuhan. Dengan kata lain komunikasi menurut ajaran agama sangat memuliakan etika yang dibarengi sanksi akhirat.

Al-Qur’an juga menyebut komunikasi sebagai salah satu fitrah manusia. Untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya berkomunikasi. Al-Qur’an memberikan kata kunci yang berhubungan dengan hal itu. Al-Syaukani (dalam Muslimah 2016, 118) misalnya mengartikan kata kunci al-bayan sebagai kemampuan berkomunikasi. Selain itu, kata kunci yang dipergunakan Al-Qur’an untuk komunikasi adalah al-qaul.

Dengan komunikasi, manusia mengekspresikan dirinya, membentuk jaringan interaksi sosial, dan mengembangkan kepribadiannya. Para pakar komunikasi sepakat dengan para psikolog bahwa kegagalan komunikasi berakibat fatal baik secara individual maupun social. Secara sosial, kegagalan komunikasi menghambat saling pengertian, menghambat kerja sama, menghambat toleransi, dan merintangi pelaksanaan norma-norma social Al-Qur’an menyebut komunikasi sebagai salah satu fitrah manusia. Dalam Qs. Al-Rahman : ayat 1 – 4.

(Tuhan) yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara”. (QS. Al-Rahman : 1 – 4)

Untuk mengetahui bagaimana orang-orang seharusnya berkomunikasi secara benar (qaulan sadidan), harus dilacak kata kunci yang dipergunakan Al-Qur’an untuk komunikasi. Selain al-bayan, kata kunci untuk komunikasi yang banyak disebut dalam Al-Qur’an adalah “al-qaul” dalam konteks perintah (amr), dapat disimpulkan bahwa ada enam prinsip komunikasi dalam Al-Qur’an.

Dalam komunikasi Islam ada enam prinsip gaya bicara atau pembicaraan (qaulan) yang dikategorikan sebagai kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam, yaitu:

1. Qaulan sadidan
Kata “qaulan sadidan” disebut dua kali dalam Al-Qur’an. Pertama Allah menyuruh manusia menyampaikan qaulan sadidan (perkataan benar) dalam urusan anak yatim dan keturunan, yakni (QS. An-Nisa: Ayat: 9) sebagai berikut.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An-Nisa: 9).

Qaulan sadidan berarti pembicaraan, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa). Dari segi substansi, komunikasi Islam harus menginformasikan atau menyampaikan kebenaran, faktual, hal yang benar saja, jujur, tidak berbohong, juga tidak merekayasa atau memanipulasi fakta.

2. Qaulan Balighan
Qaulan balighan adalah perkataan yang membekas pada jiwa, tepat sasaran, komunikatif, mudah mengerti. Ungkapan ini terdapat dalam QS. An-Nisa ayat 63.

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah pelajaran, dan katakanlah kepada mereka Qaulan Baligha-perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”. (QS. An-Nisa: 63)

Kata baligh berarti tepat, lugas, fasih, dan jelas maknanya. Qaulan Balighan artinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah (straigt to the point), dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele. Agar komunikasi tepat sasaran, gaya bicara dan pesan yang disampaikan hendaklah disesuaikan dengan kadar intelektualitas komunikan dan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh mereka.

3. Qaulan Masyura
Dalam komunikasi, baik lisan maupun tulisan, mempergunakan bahasa yang mudah, ringkas dan tepat sehingga mudah dicerna dan dimengerti. Dalam Al-Qur’an ditemukan istilah qaulan maisura yang merupakan salah satu tuntunan untuk melakukan komunikasi dengan mempergunakan bahasa yang mudah dimengerti dan melegakan perasaan. Dalam firman Allah QS. Al-Israa’ ayat 28 dijelaskan.

Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”. (QS. Al-Israa’: 28)

4. Qaulan Layyina
Qaulan layyina adalah perkataan yang lemah lembut, yang terdapat dalam Al-Qur’an QS. Thaahaa ayat 44 berikut.

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thaahaa: 44).

Qaulan Layyina berarti pembicaraan yang lemah lembut, dengan suara yang enak di dengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud Layyina ialah kata sindiran, bukan dengan kata-kata terus terang atau lugas, apalagi kasar. Dengan Qaulan Layyina, hati komunikan (orang yang diajak berkomunikasi) akan merasa tersentuh dan jiwanya tergerak untuk menerima pesan komunikasi kita.

5. Qaulan Karima
Islam mengajarkan agar mempergunakan perkataan yang mulia dalam berkomunikasi kepada siapapun, perkataan yang mulia ini seperti terdapat dalam Al-Qur’an QS. Al-Isra ayat 23, yaitu.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik”. (QS. Al-Isra’: 23)

Qaulan Karima adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah-lembut, dan bertatakrama. Dalam ayat tersebut perkataan yang mulia wajib dilakukan saat berbicara dengan kedua orangtua. Kita dilarang membentak mereka atau mengucapkan kata-kata yang sekiranya menyakiti hati mereka.

Qaulan Karima harus digunakan khususnya saat berkomunikasi dengan kedua orang tua atau orang yang harus kita hormati. Dalam konteks jurnalistik dan penyiaran, Qaulan Karima bermakna menggunakan kata-kata yang santun, tidak kasar, tidak vulgar, dan menghindari “bad taste”, seperti jijik, muak, ngeri, dan sadis.

6. Qaulan Ma’rufa
Qaulan Ma’rufa dapat diterjemahkan dengan ungkapan yang pantas. Kata Ma’rufa berbentuk isim maf’ul yang berasal dari madhinya, ‘arafa. Salah satu pengertian ma’rufa secara etimologis adalah al-khair atau al-ihsan, yang berarti yang baik-baik.

Kata Qaulan Ma’rufa disebutkan Allah dalam ayat Al-Qur’an QS. Al-ahzab ayat 32, yaitu.

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah Qaulan Ma’rufa-perkataan yang baik”. (QS. Al-Ahzab: 32)

Qaulan Ma’rufa juga bermakna perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, menggunakan sindiran (tidak kasar), dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan. Qaulan Ma’rufa juga bermakna pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kebaikan (maslahat).


C. Penutup

Berdasarkan bahasan diatas dapat diketahui bahwa komunikasi mendapat perhatian sangat besar dalam agama Islam dan mengarahkannya agar setiap muslim memakai etika islami dalam berkomunikasi. Islam sebagai wahyu yang diberikan oleh Allah mengajarkan kepada umatnya agar mampu bekomunikasi dengan baik sesuai dengan akidah yang telah diajarkannya dengan pedoman Al Qur’an sebagai sandaran.

Manusia adalah satu-satunya mahluk yang oleh Allah diberikan karunia untuk mampu berbicara, dengan kemampuan tersebut manusia mampu dan memungkinkan untuk dapat membangun suatu hubungan sosial dengan berkomunikasi. Dalam berkomunikasi Allah telah memberikan petunjuk bagi hambanya, agar dalam berkomunikasi sesuai dengan ajaran Al Qur’an dengan segenap prinsip-prinsip didalamnya dan dengan etika-etika tertentu akan membuat komunikasi berjalan sesuai yang diharapkan, tercapai tujuan, sehingga komunikasi dapat dikatakan baik.

0 Response to "Komunikasi Dalam Perspektif Islam Relevansinya Dengan ilmu Lain"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel